Jumat, 14 Februari 2014

Rangkuman Tugas I,II, dan III


RANGKUMAN TUGAS I,II dan III
·         TUGAS I Arsitek Berwawasan Lingkungan
MASALAH DAN DILEMA PERKEMBANGAN RUKO DALAM ARSITEKTUR LINGKUNGAN PERKOTAAN DAN PERMUKIMAN
Mengamati pertumbuhan rumah toko ( ruko , shophouse ) di JABOTABEK belakangan ini memberikan gambaran yang menarik . Didalamnya terlihat adanya aktifitas kota yang selalu ada dari sejak Jakarta masih kuno sehingga sampai sekarang . Tanpa memperhatikan bentuk bangunan tempat terjadinya aktifitas itu terlihat jelas terdapatnya dua aktifitas yang manusiawi sekali untuk komunitas kota . Perencanaan kota terkadang dari sejak semula telah mengakomodir bentuk bangunan untuk urutan pertumbuhan yang terakhir , yakni bangunan rumah toko yang lantai bawah untuk dagang ( atau dalam kata lain yang bercakupan lebih luas disebut untuk usaha) dan lantai atas untuk hunian baik2 lapis atau lebih apabila persil – persil tersebut berada pada sisi jalan yang direncanakan untuk kelebaran tertentu . Sedangkan pertumbuhan yang sifatnya secara ekonomi alamiah tidak selalu diartikan sebagai perkembangan rumah toko, namun merupakan perkembangan rumah dengan aktifitas ekonomi di dalamnya (home industry, home business dsb ) serta terjadi pada bangunan – bangunan rumah diareal perumahan
Masalahnya sekarang adalahkecenderungan itu masih terjadi dan Masalah dan Dilema Perkembangan Ruko Dalam ArsitekturLingkungan Perkotaan dan Permukiman Di Kawasan Jakarta dan sekitarnya mungkin akan terus terjadi pada kota – kota kita khususnya Jakarta .
Disini hanya dikemukakan berbagai permasalahan lingkungan yang timbul dari adanya perkembangan ruko di Jakarta dan sekitarnya . Sekarang RUKO sudah merupakan sebuah wabah yang melanda kota – kota besar di Indonesia . Keberadaan RUKO tidak menjadi masalah selama
bangunan itu berdiri terpencar dalam satu lingkungan . Gangguan – gangguan baru timbul jika ruko – ruko terkonsentrasi di satu tempat di tengah – tengah lingkungan yang semula tidak direncanakan untuk jenis bangunan semacam itu . Dampak negatif-nya yang paling menonjol adalah , kemacetan lalu lintas , penurunan keamanan , peningkatan kejorokan dan pencemaran visual lainnya . Contoh contohnya dapat kita jumpai diseluruh pelosok kota Jakarta .Suatu permukiman bukanlah hanya mengandung arti sebagai suatu tempat tinggal , tetapi merupakan suatu satuan yang kompleks yang melibatkan berbagai unsur – unsur kebudayaan yang mewujudkan bukan hanya kegiatan –kegiatan biologis saja tetapi juga berbagai kegiatan social , ekonomi , politik .agama dan sebagainya . Suatu permukiman dapat dilihat sebagai suatu dunia
tersendiri dimana warganya menemukan identitas mereka, merasa aman , nyaman , merasa sebagai makhluk sosial . Kemajuan jaman menuntut manusia kepada tuntutan kehidupan yang lebih efektif , efisien dan praktis . Hal ini mendorong berkembangnya ruko di seluruh penjuru dunia sebagai alternative hunian yang dengan kesederhanaan dan kepraktisannya dapat menampung segala aktifitas dengan skala ekonomi kecil , adanya efisiensi waktu dengan adanya percampuran fungsi hunian dan kerja , dengan efisiensi lahan dan kemudahan pembangunannya .
Metode Penelitian
Fokus Penelitian Diarahkan untuk mengetahui sejauh mana bangunan Rumah Toko di kawasan Jakarta memilki nilai falsafah arsitektur yang masih dipertahankan dalam perkembangan arsitektur Indonesia yang terus mengarah ke modern . Sedangkan untuk melihat perkembangan aspek desain Rumah Toko Kuno hingga ke bentuk yang lebih Modern dipergunakan Metode Fenomenologi karena akan dapat mengungkapkan ke ingintahuan peneliti berdasarkan fenomena yang terjadi di masyarakat .
Objek Penelitian
Bangunan Rumah Toko yang mulai mengalami perubahan nilai degradasi dari segi estetika dan fungsi sehingga ” mencemari “ lingkungan sekitarnya dengan penggunaan elemen dekorasi warna dan penempatan yang tidak terencana dengan baik sehingga menimbulkan menurunnya “nilai” dan kualitas dari lingkungan permukiman yang berada di sekitar area ruko tersebut.
·         TUGAS II Prinsip Prinsip Ilmu Ekologi dalam Perancangan
Pendekatan Ekologi pada Rancangan Arsitektur,
sebagai upaya mengurangi Pemanasan Global.
1.      Latar belakang.
 Dalam alam, mahluk hidup akan bersuksesi dalam ekosistimnya dan berupaya mencapai kondisi yang stabil hingga klimaks. Kondisi stabil dan klimaks terjadi bila hubungan timbal balik antara mahluk hidup  dan lingkungannya berjalan dengan mulus, yaitu berarti semua kebutuhan hidupnya terpenuhi. Manusia sebagai mahluk hidup juga merupakan ekosistim yang bersuksesi dan ingin hidup stabil dan mencapai klimaks. Populasi manusia meningkat dengan cepat disertai dengan kemanjuan teknologi yang meningkat pesat, maka terjadilah pemanfaatan sumber daya alam secara besar-besaran dengan teknologi yang paling ekonomis, sehingga menimbulkan dampak yang tidak semuanya bisa diterima oleh alam. Kepadatan dan pertumbuhan penduduk membuat kebutuhan pangan dan lahan menjadi meningkat dan berakibat pada kerusakan alam dan hutan. Di Indonesia, menurut data dari Green Peace, setiap 1 jam kerusakan hutan mencapai seluas 300 lapangan bola, hal ini merupakan faktor utama meningkatnya laju emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Padahal hutan merupakan paru-paru bumi dengan menyerap CO2 dan diolah menjadi O2. Menyusutnya luas hutan membuat konsentrasi CO2 merupakan salah satu pemicu suhu bumi meningkat. Disamping itu, rusaknya hutan berarti semua siklus ekosistim yang tergantung pada hutan dan yang terkandung didalam tanah juga terganggu. Kepadatan penduduk dibumi juga meningkatkan industri dan transportasi yang menggunakan bahan bakar yang berasal dari sumber daya alam tak terperbarui dalam  jumlah besar, yaitu energi. Industri dan transportasi mengeluarkan emisi atau gas buang dari hasil proses pembakaran energi. Emisi dalam jumlah terbesar adalah CO2 mencapai 80% dari total gas emisi pembakaran bahan bakar. Dari parahnya kerusakan hutan dan melambungnya emisi dari gas buang dari industri dan transportasi membuat konsentrasi CO2 menggantung diudara dan menebalkan lapisan atmosfer, sehingga panas matahari terperangkap dan mengganggu pelepasan panas bumi keluar atmosfer.
 Kondisi ini juga berakibat pada turunnya hujan yang mengandung asam yang disebut sebagai hujan asam yang membahayakan kelangsungan mahluk hidup. Dari semua kondisi di bumi tersebut suhu permukaan bumi meningkat dan  menimbulkan efek yang signifikan yaitu perubahan iklim yang drastis, dan pemanasan global.. Menurut Al-Gore, semenjak revolusi industri dalam kurun waktu 20 tahun, suhu bumi meningkat 2 derajat, pada tahun 2100 diperkirakam naik sampai 58 derajat. Pemanasan global yang terjadi diperkirakan dapat mencairkan es di kutub dan naiknya permukaan air laut. Menurut Green Peace,akibat pemanasan global akan mencairkan es di kutub, yang diperkirakan pada tahun 2030, sekitar 72 hektar daerah di Jakarta akan digenangi air. Tahun 2050, kemungkinan 2000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Semua kondisi ini diawali oleh kerusakan ekosistim di alam yang sangat parah, mulai habisnya sumber daya alam yang tak terperbarui, dan rusaknya sumber daya alam
lainnya.
Kondisi ini merupakan suatu bencana ekologis yang akan mengancam kualitas hidup manusia karena merupakan penunjang kehidupan manusia. Pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini tidak dapat hanya dikurangi dengan upaya penggunaan energi yang efisien saja, tetapi harus ada upaya lain yang berpihak pada penggunaan sumber daya alamsecara keseluruhan dengan menjaga  keberlangsungan sumber daya alam. Kerusakan alam yang secara ekologis sudah demikian parah, kini sudah saatnya dipikirkan dengan pendekatan dengan pengertian
kearah ekologi. Manusia diharapkan menjaga dan memelihara kelestarian alam, pada setiap kegiatannya terutama yang berkaitan sumber daya alam. Upaya tersebut harus dilakukan oleh setiap manusia disegala kegiatannya untuk menyelamatkan kualitas alam yang akan menjamin kualitas hidup manusia Pada setiap rancangan kegiatan manusia termasuk rancangan bangunan diharapkan juga berpihak pada keselarasan dengan alam, melalui pemahaman terhadap alam. Pemahaman terhadap alam dengan menggunakan pendekatan ekologis diharapkan mampu menjaga keseimbangan alam. Demikian pula pada rancangan bangunan secara arsitektur sangat perlu keselarasan dengan alam karena secara global bangunan diperkirakan menggunakan 50% sumber daya alam, 40% energi dan 16% air, mengeluarkan emisi CO2 sebanyak 45% dari emisi yang ada. Rancangan arsitektur juga mengubah tatanan alam menjadi tatanan buatan manusia dengan sistim-sistim dan siklus-siklis rancangan manusia yang tidak akan pernahidentik dengn sistim-sistim dan siklus-siklus alam
2.Pemahaman terhadap Alam.
Dalam lingkungan alam, terdapat berbagai ekosistim dengan masing-masing siklus hidupnya, dimana siklus hidup setiap makhluk hidup mempunyai hubungan timbal balik dengan yang organik dan anorganik, demikian juga dengan manusia. Manusia untuk kelangsungan hidupnya juga membutuhkan penunjang kehidupaan yang organik dan anorganik. Yang organik adalah semua yang berasal dari alam dan dapat kembali kealam, tetapi yang menjadi masalah adalah yang anorganik, yaitu penunjang dalam bentuk fisik, seringkali tidak selaras dengan sistim alamiah. Ketidak selarasan dengan sistim yang alamiah dapat memicu berbagai macam perubahan di alam. Oleh karena itu perlu adanya suatu sikap memahami perilaku alam yaitu memperhatikan bagaimana ekosistim-ekosistim dialam bersuksesi. Sistem-sistem di alam pada umumnya mempunyai siklus-siklus tertutup dan apabila dari siklus tersebut mengalami gangguan sampai batas tertentu masih mampu untuk beradaptasi. Tetapi bila sudah melampau
batas kemampuan adaptasi, maka akan terjadi perubahan-perubahan, transformasi dan sebagainya. Perubahan siklus di alam akan berdampak pada kualitas hidup manusia.
Kebutuhan hidup manusia dalam bentuk fisik seringkali memanfaatkan sumber daya alam, seperti energi dan bahan bangunan tetapi juga memberikan dampak yang seringkali tidak dapat diterima oleh alam. Apalagi dengan jumlah populasi manusia yang berkembang pesat dan kemajuan teknologi yang makin canggih. Hal ini mempercepat turunya kualitas alam dan rusaknya siklus ekosistim didalamnya. Dari sekian banyak kebutuhan manusia dalam bentuk fisik salah satunya adalah bangunan serta sarana dan prasarna sebagai wadah berlindung dan beraktivitas Bangunan didirikan berdasarkan rancangan yang dibuat oleh manusia yang seringkali lebih menekankan pada kebutuhan manusia tanpa memperhatikan dampaknya terhadap alam sekitarnya. Seharusnya manusia sadar betapa pentingnya kualitas alam sebagai
penunjang kehidupan, maka setiap kegiatan manusia seharusnya didasarkan pada pemahaman terhadap alam termasuk pada perancangan arsitektur. Pemahaman terhadap alam pada rancangan arsitektur adalah upaya untuk menyelaraskan rancangan dengan alam, yaitu melalui memahami perilaku alam., ramah dan selaras terhadap alam. Keselarasan dengan alam merupakan upaya pengelolaan dan menjaga kualitas tanah, air dan udara dari berbagai kegiatan manusia, agar siklus-siklus tertutup yang ada pada setiap ekosistim, kecuali energi tetap berjalan untuk mengha
silkan sumber daya alam. Manusia harus dapat bersikap transenden dalam mengelola alam, dan menyadari bahwa hidupnya berada secara imanen dialam. Akibat kegiatan atau perubahan pada kondisi alamiah akan berdampak pada siklus-siklus di alam. Hal ini dimungkinkan adanya perubahan dan transformasi pada sumber daya alam yang dapat bedampak pada kelangsungan hidup manusia Pemikiran rancangan arsitektur yang menekankan pada ekologi, ramah terhadap alam, tidak boleh menghasilkan bangunan fisik yang membahayakan siklus-siklus tertutup dari ekositim sebagai sumber daya yang ada ditanah, air dan udara. Didalam ranah arsitektur ada pula konsep arsitektur yang menyelaraskan dengan alam melalui menonjolkan dan melestarikan potensi, kondisi dan sosial budaya setempat atau lokalitas, disebut dengan arsitektur vernacular. Pada konsep ini rancangan bangunan juga menyelaraskan dengan alam, melalui bentuk bangunan, struktur bangunan, penggunaan material setempat, dan sistim utilitas bangunan yang alamiah serta kesesuaian terhadap iklim setempat. Sehingga dapat dikatakan arsitektur vernacular, secara tidak langsung juga menggunakan pendekatan ekologi. Menurut Anselm (2006), bahwa arsitektur vernacular lebih menonjolkan pada tradisi, sosialbudaya
 masyarakat sebagai ukuran kenyamanan manusia. Oleh karena itu arsitektur vernacular mempunyai bentuk atau style yang sama disuatu tempat tetapi berbeda dengan ditempat yang lain, sesuai tradisi dan sosial budaya masyarakatnya. Contohnya rumah-rumah Jawa dengan bentuk atap yang tinggi dan bangunan yang terbukauntuk mengatasi iklim setempat dan sesuai dengan budaya yang ada, kayu sebagai material setempat dan sedikit meneruskan radiasi matahari. Arsitektur vernacular keselarasan terhadap alam sudah teruji dalam kurun waktu yang
lama, sehingga sudah terjadi keselarasan terhadap alam sekitarnya. Pada arsitektur vernacular, wujud bangunan dan keselarasan terhadap alam lahir dari konsep social dan budaya setempat.
·         TUGAS III Bangunan Hemat Energi
RUMAH TROPIS HEMAT ENERGI
BENTUK KEPEDULIAN GLOBAL WARMING
Salah satu penyebab pemanasan global adalah peningkatan emisi CO2 di atmosfer. Kondisi semacam ini membuat bumi semakin panas dan mempengaruhi keseimbangan kehidupan di masa yang akan datang, es di kutub mencair, permukaan air laut naik hingga terciptanya badai angin dan sederetan bencana di masa datang. Membiarkan kondisi lingkungan seperti itu, berarti kita siap menelantarkan masa depan anak-anak dan cucu kita kelak dengan warisan lingkungan yang semakin jelek.
Pemakaian listrik dari pembangkit berbahan bakar fosil menjadi salah satu penyebab Pemanasan
Global tersebut, karena menambah peningkatan emisi CO2. Bangunan yang didisain dengan tidak memperhitungkan pemakaian listrik berkonstribusi terhadap perusakan lingkungan, padahal kebutuhan listrik tak bisa dihindari bila kondisi udara di luar semakin panas. Pengaruh iklim luar tersebut tertransmisi kedalam bangunan rumah tinggal dan menyebabkan beban pendinginan semakin besar. 40-50% energi listrik dalam rumah tinggal dibutuhkan untuk
proses pendinginan (Air Conditioner), prosentase ini akan semakin meningkat bila iklim luar semakin jelek.
           
Usaha penghematan listrik pada skala bangunan, paling mudah diterapkan pada skala rumah tinggal dengan mentraitment konfigurasi arsitekturalnya, karena 80% penyebab beban panas yang berasal dari luar dengan mempertimbangkan kembali disain sistem penerangan dan
Pendinginan hingga disain kulit bangunan. Tercapai 70% pengurangan konsumsi listrik dari pensimulasian antara model rumah yang respond dan tidak respond terhadap lingkungan. Dan lebih berhemat 30%-40% lagi bila rumah melibatkan unsur tanaman dan air.
Penelitian ini menegaskan, bahwa dari skala rumah tinggal sekalipun, terutama aspek
Pemakaian energi listrik dan disain rancangannya, berkonstribusi keperdulian dampak pemanasan global yang mendunia. “Lestarikan bumiku, kumulai dari rumah tinggalku
Referensi: http://finifio.wordpress.com

Kamis, 21 November 2013

2 contoh bangunan hemat energi

1.         Mengenal Rumah Hemat Energi
Efek Global Warming sangat berdampak bagi kelangsungan hidup manusia, mulai dari naiknya muka air laut, kerusakan ozon, efek rumah kaca, dan cuaca ekstrim yang dapat merusak lingkungan. Pembangunan yang terus berjalan juga berdampak negatif bagi lingkungan, karena tidak sedikit dalam proses pembangunan menghabiskan sumber daya alam dalam jumlah besar seperti kayu, asphalt, beton, baja, dan berbagai material lain yang limbahnya memberikan sumbangan yang tidak sedikit pada pemanasan global. Kegiatan konstruksi ternyata juga memberikan pengaruh besar pada perubahan keseimbangan ekosistem lingkungan yang ditandai dengan berkurangnya area hijau, untuk itulah perlu diadakan gerakan green construction.
Green construction atau konstruksi hijau adalah sebuah gerakan berkelanjutan yang mencita-citakan terciptanya konstruksi dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan pemakaian produk konstruksi yang ramah lingkungan, efisien dalam pemakaian energi dan sumber daya, serta berbiaya rendah. Aplikasi dari konstruksi hijau dapat berupa rumah hemat energi, dimana rumah tersebut didesain untuk mengurangi pemakaian listrik dalam pencahayaan, tata udara, serta ramah lingkungan.
Rumah tinggal merupakan tempat penggunaan energi terbesar kedua terbesar setelah industri, untuk itu perlu adanya efisiensi penggunaaan energi pada rumah tempat kita tinggal, agar tidak berdampak besar pada lingkungan.
Pembuatan rumah hemat energi merupakan salah satu bentuk dari kegiatan Green Construction untuk mengurangi dampak pemanasan global. Rumah bukan sekedar tempat berteduh dari terik matahari atau siraman hujan, tetapi rumah adalah tempat proses sosialisasi bagi seorang manusia bersama keluarga. Setiap orang sudah pasti selalu mendambakan hunian yang memancarkan suasana damai dan menyenangkan. Konsep rumah hemat energi menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi listrik, dan material bangunan, mulai dari desain, pembangunan, hingga pemeliharaan bangunan itu ke depan.
Desain rancang bangunan memerhatikan banyak bukaan untuk memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya alami, sedikit mungkin menggunakan penerangan lampu dan pengondisi udara pada siang hari. Desain bangunan hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, material ramah lingkungan, dan menerapkan pola hidup hemat energi melalui pemanfaatan sumber energi alternatif, seperti angin dan cahaya alami. Atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap (roof garden) dan atap surya ( atap dengan menggunakan panel surya) yang memiliki nilai ekologis tinggi yaitu suhu udara turun, pencemaran berkurang, dan ruang terbuka hijau bertambah.
Aspek yang harus dipertimbangkan dalam konsep rumah hemat energi adalah:
1.             Konsumsi sumber daya yang hemat dan efisien (energi, material, air dan lahan).
2.             Emisi baik terhadap udara, air dan tanah terkait dengan lingkungan dan kesehatan.
3.             Lain-lain (seperti kebisingan dan getaran).
Penghematan energi dapat dicapai dengan penggunaan energi secara efisien dimana manfaat yang sama diperoleh dengan menggunakan energi lebih sedikit, ataupun dengan mengurangi konsumsi dan kegiatan yang menggunakan energi.
Hemat energi dapat dimulai dari rumah kita sendiri. Membangun atau merenovasi rumah sebaiknya tidak sekadar mementingkan gaya belaka, melainkan ada kiat agar rumah dapat ramah lingkungan. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengefisiensi penggunaan energi dalam rumah, mulai dari pengaturan cahaya dalam rumah, menggunakan peralatan rumah tangga yang hemat listrik, membuat sumur resapan, serta membuat ruang terbuka hijau atau taman rumah yang mensuplai kebutuhan udara bersih.
 Berikut beberapa cara untuk mengoptimalkan energi di rumah agar tetap ramah lingkungan.
A.             PERLETAKAN BANGUNAN.
1.             Pengaruh Iklim.
Iklim tropis ditandai dengan mentari yang memancarkan sinar hampir sepanjang tahun serta curah hujan yang cukup banyak, berpengaruh terhadap kondisi "rumah-rumah" di Nusantara ini, seperti udara panas/kering, basah, dingin dan lembab. Hal-hal tersebut sebaiknya menjadi pertimbangan dalam pemilihan bahan bangunan, penentuan letak "rumah" dan pembangnan "rumah" sejak dari pondasi hingga atap "rumah".
2.             Pengaruh Panas Mentari.
Sinar mentari dapat berfungsi sebagai penerangan alami di siang hari dalam "rumah". Selain itu, sinar mentari pagi dapat dimanfaatkan agar ruangan tidak terasa lembab dan pengap. Namun sinar mentari yang masuk ke dalam "rumah" perlu diperhatikan supaya tidak terlalu panas atau silau dengan cara :
a.             Menetukan tata letak ruang dalam "rumah" yang disesuaikan dengan orientasi mentari, misalnya:
-                 Daerah hunian diusahakan pada arah Timur.
-                 Sinar mentari didistribusikan merata pada penyinaran sekitar pukul 08.00 - 16.00.
-                 Membuat titisan "rumah" cukup besar hingga menahan sinar mentari langsung yang kuat masuk ruang dalam.
b.             Menanam pohon pelindung pada arah mentari sore.
c.             Memasang penutup langit-langit supaya panas mentari tidak dirasakan langsung.
Dengan pengaturan seperti diatas, "rumah" akan terasa nyaman bagi keluarga serta ruangan akan mendapat sinar mentari pagi yang cukup serta baik untuk kesehatan keluarga.
3.             Pengaruh Hujan.
Hujan, terutama hujan deras dengan angin kencang dapat menimbulkan tampias terhadap bagian-bagian "rumah" yang terbuka. Pemberian tritisan yang cukup besar akan dapat mencegah tampias tersebut.
Penggunaan bahan bangunan yang mudah lapuk sebaiknya juga dilengkapi dengan saluran air hujan yang terbuka dan terletak di bawah cucuran atap untuk mengalirkan ke sumur-sumur peresapan dan selokan-selokan di pinggir jalan. Dengan demikian, perletakan bangunan "rumah" sebaiknya harus dapat memberikan kemungkinan pengairan air hujan maupun air buangan dengan lancar dan teratur.
4.             Pengaruh Angin.
Letak "rumah" supaya disesuaikan dengan arah angin (basah dan kering). Ventilasi atau lubang udara yang paling baik searah dengan arah tiupan angin. Angin berfungsi untuk memberikan udara sejuk serta dapat membantu sirkulasi udara ke dalam lingkungan.
5.             Pengaruh Lingkungan.
"Rumah" sebaiknya dibangun dengan mempertimbangkan keserasian terhadap lingkungan di sekitarnya. Misalnya dengan penyesuaian bentuk bangunan, pemilihan bahan bangunan, penentuan warna yang serasi hingga memungkinkan adanya hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitarnya.
Kondisi dan ketinggian tanah akan mempengaruhi perletakan bangunan "rumah" terhadap tanah yang mendukung bangunan itu. Tanah yang lembek membutuhkan pondasi yang lebih besar dan dalam. Tanah yang berair sebaiknya menggunakan lantai yang kedap air atau panggung sehingga tidak terpengaruh oleh kelembaban tanah.
Dengan perletakan bangunan "rumah" yang benar akan membuat lingkungan menjadi tertib, serasi dan teratur.

B.             PENYEDIAAN RUANG KEGIATAN/ peletakan ruang dengan tepat dan efisien
1.             Jenis Kegiatan.
Secara garis besar, jenis kegiatan yang dilakukan oleh anggota keluarga di "rumah" dibedakan antara lain:
a.             Jenis kegiatan yang umum dilakukan:
-                 Beristirahat seperti tidur, santai bersama keluarga dan sebagainya.
-                 Bekerja seperti memasak, menjahit, mencuci, berkebun dan sebagainya.
-                 Melakukan kegiatan higienis sehari-hari seperti mandi, buang air dan sebagainya.
b.             Jenis kegiatan khusus.
Merupakan kegiatan yang dilakukan oleh anggota keluarga untuk menunjang pendapatan keluarga memenuhi tuntutan kebutuhannya, antara lain: berkebun, menjemur hasil pertanian, mengolah hasil pertanian atau industri kecil lainnya, menyimpan dan berdagang/warung.
Jenis usaha yang boleh ditempatkan di lingkungan "rumah" adalah yang termasuk dalam batasan industri kecil/"rumah" tangga.
Penyediaan ruang untuk usaha ini diusahakan tidak mengganggu seluruh anggota keluarga maupun tetangga dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Disamping itu, harus diusahakan agar kotoran atau limbah sebagai akibat adanya kegiatan usaha keluarga tersebut tidak mengganggu atau mencemari lingkungan di sekitarnya.
2.             Penyediaan Ruangan.
Berdasarkan jenis kegiatan yang dilakukan keluarga, maka setiap ruangan kegiatan disediakan sesuai dengan:
a.             Jumlah anggota keluarga yang melakukan kegiatan.
b.             Perabot dan alat yang digunakan.
c.             Sirkulasi atau lalu lintas pelaku kegiatan.
Akan baik sekali apabila semua kegiatan disediakan ruangan sesuai dengan yang dibutuhkan. Tetapi apabila ruangan yang ada sangat terbatas, dapat direncanakan ruang dengan fungsi ganda. Seperti dalam penggunaan:
a.             Ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga.
b.             Ruang makan yang juga berfungsi sebagai ruang belajar.
Dua kegiatan dapat dipadukan dalam ruangan yang sama, jika:
a.             Penggunaan ruang dalam waktu yang berbeda.
b.             Ruangan yang dibutuhkan mempunyai ciri yang sama.
Jenis kegiatan khusus yang dapat mengganggu kesehatan keluarga dari bau, debu, suara bising maupun pemandangan yang kurang sedap, sebaiknya terpisah jauh dari bangunan "rumah" (misalnya kandang ternak).
Dengan mempersiapkan "rumah" yang mempunyai tata hubungan ruang yang serasi, diharapkan setiap kegiatan dapat dilaksanakan dengan mudah dan nyaman.
3.             Penataan dan Persyaratan Ruangan
Mempersiapkan sesuatu ruangan hendaknya disesuaikan dengan fungsi ruangan dalam memenuhi kegiatan anggota keluarga tanpa mengurangi nilai sehat, nyaman, aman dan serasi sesuai fungsinya. Ruang supaya ditata dengan memperhatikan syarat-syarat:
a.             Ruang Tamu:
-                 Perletakan ruangan yang mudah dicapai oleh tamu dari luar, maupun keluarga dari dalam.
-                 Pemandangan keluar yang cukup menarik dapat diupayakan dengan penataan halaman dengan tanaman yang serasi.
-                 Pemakaian material, pemilihan warna, dekorasi dan perabot "rumah" tangga diusahakan yang serasi.
-                 Penerangan dan bidang bukaan yang cukup untuk memberikan suasana nyaman.
b.             Ruang Makan:
-                 Penempatan ruang makan sebaiknya mudah dicapai oleh semua anggota keluarga, sehingga dapat menciptakan suasana yang akrab untuk berkumpulnya seluruh anggota keluarga.
-                 Perletakan ruang makan sebaiknya berdekatan dengan dapur untuk memudahkan sirkulasi.
-                 Pemilihan bukaan ruangan ke arah halaman atau taman diharapkan dapat memberikan kesegaran pemandangan.
-                 Penerangan alami maupun buatan perlu disediakan dengan cukup baik untuk menerangi hidangan pada siang maupun malam hari.
-                 Pertukaran udara memudahkan pergantian udara dalam ruangan dengan udara luar yang segar melalui lubang angin/ventilasi.
c.             Ruang/Kamar Tidur:
-                 Penempatan ruangan hendaknya dapat memberikan cukup ketenangan serta memungkinkan cahaya mentari dapat masuk.
-                 Silau mentari sore dan tiris hujan dapat dihindari dengan memanfaatkan adanya pohon pelindung atau teritis lebar dan tirai yang melindungi jendela.
-                 Ganti peralatan listrik di dalam kamar yang hemat energi. Begitu pula direncanakan pemilihan armature lampu atau kap lampu yang digunakan. Pendar lampu sangat berpengaruh terhadap efisiensi lampu hemat energi. Tidak salahnya menggunakan kap lampu dari kertas daur ulang, karena sudah memikirkan dan ikut andil dalam penghematan energi.
-                 Pertukaran udara sebaiknya diupayakan dengan peranginan silang, lubang angin/ventilasi dengan luas sekurang-kurangnya seperlima luas jendela.
d.             Dapur:
Ada banyak cara untuk menerapkan desain interior berkonsep green-design (ramah lingkungan) di dapur untuk rumah Anda. Hal ini dapat dimulai dari menggunakan oven hemat energi, pencuci piring dan peralatan, metode pembuangan sampah organik dan lantai organik. Tips sederhana bisa membantu Anda untuk merombak dapur yang ada menjadi dapur yang ramahlingkungan (eco-friendly) dan berkelanjutan.
Ketika merencanakan untuk mendesain interior di dapur, akan sangat terbantu dengan membuat catatan hal-hal yang perlu diganti atau ditukar. Proses perombakan atau pembangunan dengan perencanaan yang tepat dapat menghemat banyak waktu dan uang. Dalam hal anggaran terbatas, refurnishing dapat dilakukan secara bertahap.

1.             Penggunaan Peralatan Dapur yang ramah lingkungan. Oven konvensional besar bisa diganti dengan oven pemanggang listrik yang lebih kecil. Hal ini membantu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari rumah. Sebuah lemari es yang baik dapat membantu untuk menjaga keseimbangan antara konsumsi energi dan pengendalian suhu. Hal ini memastikan hidup berkelanjutan dengan konsumsi energi lebih rendah. Sebagai bagian dari desain interior dapur yang ramah lingkungan, memasang peralatan yang hemat energi juga dapat menghemat tagihan.
2.             Karpet Organik memiliki serat alami dapat digunakan untuk dapur ramah lingkungan dan area lain dari rumah. Karpet organik berbahan  cotton
3.             Pengaturan ventilasi dapur. Dapur dengan ventilasi yang baik akan menggunakan lebih sedikit energi dan pencahayaan buatan di siang hari. udara segar dari jendela membantu untuk menghilangkan gas beracun dan jamur.
4.             Lemari Dapur bisa direnovasi dengan cepat menggunakan bahan terbarukan seperti kayu, panel jerami gandum dan kayu non-ilegal logging. Untuk pembuatan kitchen set ramah lingkungan, Anda dapat memanfaatkan jasa perusahaan yang mengkhususkan diri dalam menggunakan kayu reklamasi.
5.             Tempat sampah non-organik dapat diganti dengan tempat sampah kompos. Menanam dua atau tiga tanaman sayuran di dapur dapat mengisi rumah dengan oksigen segar sepanjang hari. Tanaman sayuran tadi juga dapat dimakan dan sayuran juga dapat digunakan untuk memasak makanan yang sehat untuk keluarga.
6.             Flooring merupakan aspek penting untuk dipertimbangkan ketika menerapkan desain interior dapur ramah lingkungan. Hal ini dapat dicapai dengan lantai bambu didaur ulang, kayu atau batu.
7.             Green design-interior di dapur termasuk penggunaan sedikit cat senyawa organik volatile.

e.             Ruang/Kamar Mandi:
-                 Penyediaan ruang/kamar mandi dan jamban untuk menjaga kebersihan dan kesehatan badan dapat ditempatkan di dalam bangunan atau luar bangunan.
-                 Penempatan ruang/kamar mandi diusahakan supaya dapat dengan mudah membuang air kotor.
-                 Penyediaan lubang udara/ventilasi dengan arah bukaan keluar supaya sirkulasi udara lancar.
-                 Penerangan yang cukup diusahakan dan penerangan alami.
-                 Pembuatan jamban dengan konstruksi leher angsa untuk menghindari bau dan pengotoran serangga.
-                 Penyediaan bak air sebaiknya jangan terlalu besar ukurannya supaya air mudah diganti dan bak dapat dibersihkan dengan cepat.
-                  
f.              Ruang Usaha.
Penempatan ruang kerja bagi keluarga yang melakukan pekerjaan sebagai mata pencaharian di "rumah", perlu mempertimbangkan kemungkinan gangguan yang ditimbulkan, sehingga tempat kerja tidak mengganggu tempat tinggal keluarga maupun tetangga. Adapun jenis gangguan tergantung dari pekerjaan yang dilakukan misalnya:
-                 Pengolahan hasil bumi: debu, sampah padat.
-                 Konpeksi, tas, sepatu : suara, sampah padat.
-                 Pengolahan makanan : asap dan bau, sampah cair maupun padat.
Pengurangan gangguan dapat dilakukan dengan cara :
a.             Penempatan ruang yang cukup terpisah dari kegiatan-kegiatan "rumah" tangga dalam keluarga maupun tetangga.
b.             Penempatan pohon-pohon dan tanaman yang berdaun lebat sebagai pembatas yang dapat menampung debu dan mengurangi suara bising.
c.              Penyediaan cerobong asap dan lubang angin yang baik.
d.             Penyediaan saluran-saluran, sumur peresapan atau pengolahan limbah cair agar tidak mencemari lingkungan.
e.             Penyediaan tempat sampah dan sistem pemusnahan sampah padat (dibakar, ditimbun sementara dan sebagainya).
f.               Penerangan alami atau buatan yang cukup, terutama untuk kegiatan usaha yang memerlukan ketelitian yang tinggi.
g.             Penyediaan lubang angin/ventilasi yang cukup.
h.             Penggunaan bahan bangunan tahan api, untuk bagian ruang yang pemanfaatannya memakai bahan bakar.
i.               Penggunaan bahan bangunan yang tahan air, utnuk bagian ruang yang mempergunakan atau selalu kena air.
j.               Pembukaan diarahkan ke halaman/taman untuk menciptakan keseimbangan memperoleh kesegaran pandangan.
C.             KOMPONEN "RUMAH SEHAT".
1.             Lantai.
Pemilihan bahan bangunan dan cara pembuatan lantai perlu disesuaikan dengan fungsi dan jenis kegiatan yang dilakukan dalam ruangan tersebut, yang dibedakan atas:
a.             Lantai yang dimanfaatkan dalam kondisi kering (penggunaan kering), misalnya untuk ruang tidur, ruang makan, ruang tamu dan dapur sebaiknya dibuat dengan permukaan kering datar, dan mudah untuk dibersihkan. Bila diperlukan, bahan penutup lantai diusahakan yang tidak menimbulkan kelembaban dan mudah dibersihkan.
b.             Lantai yang dimanfaatkan dengan menggunakan air/basah (penggunaan basah), misalnya untuk kamar mandi, jamban dan tempat cuci, sebaiknya dibuat dengan memperhatikan kemiringannya sehingga memudahkan pengaliran air ke saluran pembuangan. Sedangkan bahan penutup lantai digunakan yang permukaannya tidak licin dan mudah dibersihkan. Bangunan "rumah" panggung antara lain dapat memanfaatkan bahan bangunan dengan konstruksi kayu maupun bambu, penutup lantai dan bahan seperti anyaman bambu/rotan, papan kayu. Untuk mengurangi kelembaban dan menjaga kesehatan kolong di bawah lantai dibuat cukup tinggi agar mudah untuk membersihkannya.
c.             Linoleum adalah bahan pelapis lantai ramah lingkungan yang yang tahan terhadap panas dan api. Linoleum terbuat dari bahan alami yang dihasilkan dari sumber daya yang bisa diperbaharui. Produk ini efektif, dan bisa memenuhi persyaratan untuk kebersihan, keamanan, dan kemampuannya menjadi material yang ramah lingkungan.

2.             Dinding.
Dinding berfungsi sebagai pembatas ruang kegiatan agar kegiatan dapat dilakukan dengan aman dan terlindung. Dinding dapat juga berfungsi sebagai penahan beban merata dari atap, untuk selanjutnya diteruskan ke pondasi.
Bahan dinding yang digunakan harus dapat menjamin kekuatan dan keawetannya. Pemilihan bahan untuk dinding, perlu disesuaikan dengan fungsi dan jenis kegiatan yang dilakukan dalam ruangan, yang dibedakan atas:
a.             Pemilihan bahan dinding yang tidak banyak mengantarkan panas dan tidak tembus pandang, seperti bata, batako, papan kayu dan sebagainya.
b.             Penggunaan bahan kedap air setinggi 20 cm di atas lantai untuk menghindari pengaruh kelembaban air tanah yang dapat terus naik ke atas.
c.             Penggunaan basah sebaiknya menggunakan bahan yang kedap air dengan tinggi sekurang-kurangnya 1,5 meter dari lantai, bahan tersebut dapat berupa dinding batu bata, batako yang dapat transraam (campuran: 1 semen dan 2 pasir). Penggunaan dinding kedap air dimaksudkan agar dinding tahan lama dan suasana ruangan tetap bersih serta nyaman.
d.             Dinding kaca dapat membuat ruang menjadi terang pada siang hari. Dinding kaca juga menjadikan ruang terasa lebih lapang. Semula material kaca jarang digunakan sebagai material dinding maupun pintu. Sifat kaca yang rapuh dan rawan pecah merupakan alasannya. Namun kini, material kaca cukup populer digunakan sebagai dinding. Terutama pada bangunan-bangunan rumah modern.
Dinding kaca memberikan efek serupa cermin. Fungsinya bukan untuk memantulkan bayangan ruang, namun lebih pada "meniadakan" batas antar ruang. Kaca-kaca transparan berukuran besar dapat membawa nature flow ke dalam ruang. Jika terdapat taman hijau di seputar rumah, dinding kaca akan menyajikan pemandangan tersebut ke dalam ruang. Selain fungsi di atas, kaca juga memungkinkan banyak cahaya alam masuk, menerangi ruang di dalam rumah. Sehingga, pada siang hari misalnya, tidak diperlukan lampu pada ruang-ruang yang berbatasan langsung dengan ruang luar. Dengan demikian, energi listrik untuk penerangan ruang pun dapat dihemat. Pada malam hari, kaca juga dapat menghadirkan pemandangan alam ke dalam ruangan dan menjadikan ruang lebih romantis.
e.             Be-panel merupakan kombinasi antara kemampuan insulasi dari Expanded Polystyrene (EPS) dan massa beton. Ini merupakan kombinasi material yang dapat menghasilkan sebuah struktur yang memiliki tingkat insulasi thermal yang tinggi. Dengan insulasi thermal yang tinggi maka akan mengurangi turun naiknya temperatur di dalam ruangan, sehingga dapat mengurangi konsumsi energi dari alat yang digunakan untuk memanaskan atau mendinginkan ruangan.

3.             Memaksimalkan Jendela pada rumah
Sumber pencahayaan ada dua, yaitu alami dan buatan. Sinar matahari adalah salah satu sumber cahaya alami yang dibutuhkan pada siang hari. Perancangan jendela yang baik dapat memungkinkan hadirnya sinar matahari ke setiap sudut ruangan. Selain mampu mendatangkan suasana segar di pagi hari, sumber cahaya gratis ini juga baik untuk kesehatan. Desain rumah yang lebih terbuka pada dinding dan atap, akan memaksimalkan cahaya matahari yang masuk kedalam rumah. Agar udara di dalam rumah dapat mengalir maka harus ada lubang ventilasi pada arah tegak lurus datangnya angin. Jika sejajar dengan arah angin, maka sedikit sekali kemungkinan angin akan masuk ke dalam rumah. Atur penempatan ruangan dengan cara memperbanyak bidang yang mengarah utara dan selatan, usahakan setiap ruangan mempunyai jendela atau ventilasi supaya ada pertukaran udara. Hal ini dilakukan supaya panas matahari tidak langsung masuk ke dalam rumah dan mengakibatkan suhu rumah naik sehingga penggunaan AC bisa dikurangi
4.              Atap.
Berikut beberapa cara untuk menghemat energi agar tetap ramah lingkungan dibagian atap rumah
a.             Taman Atap
Sebuah penelitian menyebutkan, bila tanaman di bagian atap mempunyai tinggi sekitar 10 cm, maka dapat mengurangi pemakaian AC sekitar 25 persen. Sebuah ruangan yang terletak tepat di bawah green roof mempunyai suhu udara lebih rendah, yaitu sekitar 3 derajat hingga 4 derajat Celsius dibandingkan dengan suhu udara di luar ruangan. Green roof dan green wall juga berfungsi sebagai filter udara yang membuat udara lebih bersih. Sebagai informasi, setiap satu meter persegi rumput di bagian atap dapat menghilangkan sekitar 0,2 kg partikel udara yang kotor setiap tahunnya. Dengan membuat taman di atas atap, gedung-gedung bertingkat tetap bisa memiliki ruang terbuka hijau, karena ada efisiensi ruang. Taman di atas atap (roofgarden) merupakan salah satu alternatif penghijauan untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan di kota besar. Pembuatan taman di atas atap memang tidak murah dan membutuhkan struktur dan konstruksi atap yang spesifik. Bahkan untuk hasil yang optimal, konstruksi atap untuk taman didesain sejak awal, sebelum gedung itu dibangun. Namun investasi ini bisa kembali dalam beberapa tahun kemudian, karena biaya untuk listrik pendingin udara berkurang, serta nilai ekonomis bangunan bertambah. Selain menambah keteduhan, taman di atas atap juga bisa dimanfaatkan untuk menyerap gas-gas beracun. Misalnya bambu atau palem dapat menyerap gas formalin dan bensin. Sedangkan tanaman bakung, selain menyerap gas formalin dan bensin, juga dapat menyerap alkohol dan aseton yang dihasilkan cat dan sebagainya. Tanaman rambat juga berfungsi untuk menyerap gas asetat, amonia, dan gas lainnya. Karena fungsi ini, tanaman rambat banyak dipakai untuk taman di atas atap di luar negeri.
b.             Atap menggunakan Panel Surya
Energi matahari yang melimpah dimanfaatkan untuk menciptakan kemandirian energi di rumah. Salah satunya, dengan aspek desain yang dapat menempatkan solar panel di sisi rumah yang menghadap barat, yang mendapatkan terpaan sinar matahari paling tinggi dan lama. Selain memanfaatkan energi, hal ini dapat mengurangi panas yang merambat di dinding rumah, dan mengurangi penggunaan pendingin ruangan.
c.             Rangka Atap Baja
Konstruksi rangka atap baja ringan yang terbuat dari baja ringan (truss) menjadi solusi bagi rangka atap rumah biasa yang masih menggunakan kayu sebagai bahan dasar, karena adanya pengaruh dari cuaca dan rayap.
Keunggulan menggunakan Rangka Atap Baja Ringan:
-                 Lebih mengutamakan struktur dengan sistem plat Buhul di setiap tumpuan sendi (seperti jembatan) lebih kokoh dari kuda-kuda baja lainnya.
-                 Konstruksi stabil dan aman
-                 Menggunakan tumpuan sendi dan roll
-                 Prefabrikasi perkomponen
-                 Tahan terhadap karat, rayap, perubahan cuaca dan kelembaban
-                 Bisa dipakai dengan genteng metal maupun keramik atau beton yang berat
-                 Dirancang stabil terhadap tekuk, puntir serta muai/mulur
-                 Pemasangan yang profesional dan terlatih hingga cepat pengerjaannya
-                 Terdapat banyak pilihan jenis kuda-kuda
-                 Pemilihan bentang: 6 m - 8 m (bentang kecil), 8 m - 10 m (bentang menengah), 10 m - 12 m (bentang besar)
-                 Lebih dari 12 m (bentang khusus)
-                 Tersedia material dengan galvalume, zincalume dan galvanized

d.             Penutup Atap
Bahan penutup atap harus memiliki nilai hambatan hantaran panas yang cukup besar dan memiliki kemampuan memantulkan panas yang baik. Penutup atap dari bahan tanah atau keramik sangat baik untuk kenyamanan suhu ruang dalam. Apalagi bila ditambah penggunaan lembaran aluminium foil yang dipasang di bawah penutup atap. Poin ini berhubungan dengan penggunaan energi listrik untuk AC.
e.             Insulasi
Salah satu solusi mengurangi panas yaitu menggunakan insulasi. Lembaran insulasi yang dipasang di bawah penutup atap ini mampu merefleksikan radiasi panas matahari di kala siang. Insulasi ini juga bisa mengurangi suara berisik. Suara yang dapat direduksi hingga 15 desibel
f.              Turbin Atap
Turbin atap adalah cerobong yang berputar ringan untuk menghisap udara ke luar rongga atap. Kelebihan turbin atap adalah tahan air dan tidak menggunakan listrik. Turbin atap dapat berputar dengan sedikit tiupan udara. Selama musim panas, ruang antara langit-langit dan atap akan sangat panas, meskipun pada atap rumah terdapat insulasi, sebagian dari panas ini tetap akan masuk ke dalam ruangan rumah, dengan adanya turbin atap, hawa panas didalam rumah dapat berkurang.
g.             Langit-Langit.
Penggunaan langit-langit dimaksudkan untuk menahan panas dan debu dari atap masuk ke dalam ruangan secara langsung. Langit-langit dapat dibuat dari bahan seperti anyaman banbu, asbes semen, triplek, papan kayu dan lain-lain. Pemeliharaannya dengan cara membersihkan secara berkala agar ruangan bebas dari sarang laba-laba/serangga dan debu yang mengganggu kesehatan.
5.             Saluran Pembuangan Air Kotor/Air Limbah.
Saluran pembuangan air kotor/air limbah dibedakan:
a.             saluran air bekas mandi dan cuci.
b.             Saluran air kotor dari kakus.
Untuk daerah yang tanahnya mudah menyerap air:
a.             Untuk saluran air bekas mandi dan cuci bisa terbuka, sedangkan untuk sa;uran air kotor harus tertutup.
b.             Bila dalam lingkungan perumahan tersebut terdapat saluran-saluran lingkungan/kota, maka saluran dari "rumah" dapat dihubungkan.
c.             Bila tidak ada maka harus dapat sumur peresapan untuk air bekas mandi/cuci (juga untuk air hujan), serta dibuat bak septik lengkap dengan peresapannya.
Yang harus diperhatikan:
a.             Jarak sumur peresapan ke sumur air bersih sedikitnya 10 meter. Hal ini mencegah pencemaran air kotor ke sumur air bersih.
b.             Kemiringan saluran pembuangan air, sehingga memungkinkan pengaliran air lancar.
c.             Kalau saluran cukup panjang, perlu adanya bak-bak kontrol, untuk menjaga agar tidak terjadi penyumbatan.
6.             Saluran Pembuangan Air Hujan.
Saluran pembuangan air hujan pe"rumah"an:
a.             Sebaiknya terbuka.
b.             Letak di bawah atap.
c.             Dapat mengalirkan air hujan ke selokan di pinggir jalan.
Saluran air hujan lingkungan (selokan air hujan) dibuat untuk menghindari genangan air hujan di lingkungan. Sebaiknya terbuka sehingga mudah dibersihkan. Saluran air hujan dari "rumah" dan dari jalan ditampung pada saluran air hujan lingkungan, kemudian diteruskan ke aungai/saluran yang lebih besar. Namun apabila dalam lingkungan pe"rumah"an tidak terdapat saluran lingkungan (selokan air hujan), maka "rumah" harus dibuat sumur peresapan air hujan (sekaligus untuk peresapan air limbah bekas mandi/ccuci).
7.             Jaringan Air Bersih.
Untuk menjaga kesehatan diperlukan air untuk minum, masak, cuci dan mandi. Air untuk minum harus memenuhi persyaratan kesehatan dan kebersihan, yaitu:
a.             Tidak berwarna, tidak berbau dan jernih.
b.             Tidak berasa dan segar.
c.             Bebas dari bibit penyakit.
d.             Tidak mengandung zat logam berat seperti zat besi, mangan, merkuri, nikel dan lain-lain.
Air bersih dapat diperoleh dari saluran PAM, sumur dan sebagainya. Sumur air bersih ada dua macam, yaitu sumur pompa pangkal dan sumur gali. Sumur pompa pangkal dan sumur gali ini harus ditempatkan pada jarak minimal 10 meter dari bidang resapan (jarak dapat ditentukan tergantung pada sifat tanahnya). Hal ini untuk mencegah agar sumur air bersih tersebut tidak tercermar air kotor.
Beberapa pengolahan air sederhana untuk keperluan keluarga:
a.             Air bersih dimasak sampai mendidih untuk mematikan bibit penyakit, baru kemudian dapat diminum.
b.             Kuman-kuman penyakit dapat dibasmi dengan membubuhkan kaporit ke dalam air dan diaduk 1/4 gram (2 kepala korek) untuk 20 liter air. Diamkan minimal 30 menit baru kemudian dapat diminum.
c.             Air sungai, danau, dapat dijernihkan dengan mengendapkan air selama 24 jam.
-                 Aduk 5 blik air dengan 1 sendok tawas dan endapkan.
-                 Disaring dengan saringan pasir.
-                 Air yang telah jernih, dibubuhi kaporit, baru dapat digunakan.

8.             Tempat Pembuangan Sampah.
Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan "rumah" serta keluarga setiap "rumah" harus dilengkapi dengan tempat pembuangan sampah baik di dalam maupun di luar "rumah". Tempat pembuangan sampah "rumah" tangga dapat dibuat dari:
a.             Tong.
b.             Bak kayu.
c.             Bak sampah dari batu bata dan lain-lain.
Sebaiknya tempat pembuangan sampah sementara ini tertutup dan sering dibersihkan untuk menghindari bau yang tidak sedap, serangga/hewan-hewan kecil yang dapat menyebabkan penyakit.
Ada beberapa cara pengolahan sampah "rumah" tangga yang dapat dilakukan terutama di daerah pedesaan, seperti:
a.             Ditimbun untuk kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Sampah yang dapat diolah dengan cara ini terdiri dari sampah yang berasal dari daun dan ranting, kotoran hewan, sisa makanan.
b.             Dibakar dan abunya ditimbun dalam tanah. Cara ini digunakan untuk sampah-sampah yang tidak dapat membusuk dan tidak dapat menyatu dengan tanah antara lain sisa plastik, sisa kayu yang tidak dapat digunakan lagi.
c.             Ditimbun pada area yang tidak untuk ditanami lagi. Untuk sampah sisa ban bekas, kaleng/plastik bekas atau perabot "rumah" tangga bekas.
Setiap anggota keluarga perlu dibangkitkan kesadarannya untuk selalu menjaga kebersihan sehingga keluarga dan lingkungan relatif terjamin.

9.             Pemanfaatan Lahan
a.             Taman Rumah
Selain kebersihan dan ventilasi yang cukup, alangkah baiknya rumah yang sehat juga ditambah dengan taman indah dan terawat. Mempunyai taman indah menjadikan rumah lebih sehat dan tentu saja menjadi keuntungan bagi penghuni rumah. Dari penelitian ditemukan bahwa memandang taman saja sudah cukup memberikan efek baik untuk kesehatan psikologi orang. Lingkungan sekitar dengan pemandangan taman hijau dan bunga-bunga berwarna cerah akan memberikan perasaan menyenangkan bagi yang melihatnya.

b.             Membuat Sumur Resapan
Sumur resapan adalah salah satu rekayasa teknis konservasi air berupa bangunan yang dibuat sedemikian menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu, diisi dengan bahan - bahan resapan (pasir, batu, dan ijuk) secara berlapis sampai rata dengan permukaan tanah yang berfungsi sebagai tempat penampungan dan sekaligus peresapan air kedalam tanah. Pembuatan sumur resapan upaya memberikan imbuhan air secara buatan dengan cara menginjeksi air hujan ebagai media infiltrasi kedalam tanah yang dapat diterapkan dikawasan permukiman, pertokoan, industri, sarana dan prasarana olah raga serta fasilitas umum. Adapun tujuan pembangunan sumur resapan untuk mengurangi erosi, menyimpan dan menaikan permukaan air tanah dalam rangka penyelamatan sumberdaya air.
10.         Peralatan Rumah Tangga Hemat Energi
Hemat energi tidak hanya dilakukan terhadap fisik bangunan. Tapi juga penggunaan peralatan dalam rumah. Sejauh mungkin penghuni dapat menggunakan alat-alat elektronik yang hemat energi. Kurangi penggunaan bahan-bahan elektronik yang menggunakan tenaga listrik yang akan menimbulkan pemanasan global. Upaya hemat energi dapat dimulai dari hal sederhana. Mematikan lampu disiang hari, mematikan televisi, radio, kipas angin atau AC dan barang-barang elektronik jika tidak digunakan. Lebih selektif dalam memilih berbagai barang interior rumah, terutama dalam menggunakan barang elektronik yang ramah lingkungan.
Penggunaan energi secara wajar, memiliki banyak keuntungan. Penggunaan bahan bakar, gas, air, dan listrik secukupnya, tentunya akan menekan anggaran pengeluaran rumah tangga. Perilaku konsumtif dan berlebihan bukanlah tindakan bijaksana, karena anak cucu dan generasi penerus juga membutuhkan kehidupan yang baik dan nyaman menempati bumi. Pemanfaatan energi buatan yang telah banyak dikembangkan, dapat menjadi solusi hemat energi. Energi yang sering digunakan untuk peralatan rumah tangga adalah energi listrik. Energi listrik dibangkitkan dengan berbagai cara. Misalnya, energi listrik dihasilkan dari pengubahan energi angin, air, matahari, gas alam, dan minyak bumi.
Berikut adalah contoh peralatan rumah yang hemat energi
1.             Kompor Induksi
Pilihan lain menghemat energi gas dan minyak yakni menggunakan kompor induksi. Memasak dengan kompor ini lebih cepat matang dibanding kompor biasa. Berbeda dengan kompor pada umumnya, kompor ini mungil dan tipis sehingga akan terlihat sangat mungil jika diletakkan di dapur selektif menggunakan barang elektronik.
2.             Kipas Angin Plafon
Pemanas dan pendingin adalah peralatan yang paling memboroskan energi di rumah, selain itu juga paling mahal berkaitan dengan listrik, gas, minyak atau kayu. Kipas angin plafon, banyak digunkan pada musim panas, namun kipas angin ini juga sangat membantu saat musim dingin. Saat udara dingin, hawa panas dalam rumah akan naik ke atas ruangan dan terkumpul di dekat plafon, kipas angin plafon dengan kecepatan rendah dapat membantu mendorong hawa panas itu ke bawah. Hal ini juga bisa membantu mengurangi kondensasi pada jendela.
3.             Lampu LED
LED adalah lampu berukuran kecil yang memiliki beberapa keunggulan antara lain konsumsi listrik rendah. Beberapa tahun belakangan LED mulai dilirik untuk keperluan penerangan, terutama untuk rumah-rumah di kawasan terpencil yang menggunakan listrik dari energi terbarukan (surya, angin, hidropower, dll). Alasannya sederhana, konsumsi listrik LED yang kecil sesuai dengan kemampuan sistem pembangkit energi terbarukan yang juga kecil. Lampu LED memiliki efisiensi yang lebih banyak dibandingkan dengan lampu pijar/ tungsten, maupun lampu fluorescent. Lampu LED tidak menghasilkan panas seperti lampu pijar, tidak merusak kesehatan seperti lampu fluorescent,dan lebih tahan lama. 1 Watt lampu LED menghasilkan 100 lumen. Kekurangan lampu LED adalah masih mahal



2.             Contoh Rumah Hemat Energi


  





2. gedung hemat energi di AS


Penduduk Amerika Serikat menghabiskan $432 miliar per tahun untuk membayar biaya energi bangunan rumah, toko dan kantor mereka. Biaya ini setara dengan biaya asuransi kesehatan yang harus dibayar oleh semua perusahaan di AS.
Penelitian terbaru dari United Technologies Corporation bekerja sama dengan Rhodium Group mengungkapkan, jika pemerintah, pebisnis dan rumah tangga mau menghemat energi menggunakan desain dan teknologi yang ada saat ini, mereka akan mampu menghemat biaya hingga $65 miliar per tahun. Kedua lembaga ini meneliti dampak dari target efisiensi energi bangunan di Amerika Serikat sebesar 30% hingga 2030.
Menggunakan bahasa finansial perusahaan, penghematan energi bangunan sebesar 30% ini juga akan mampu meningkatnya imbal hasil internal atau internal rate of return (IRR) sebesar 28,6% dalam waktu 10 tahun.
Imbal hasil ini lebih tinggi empat kali lipat jika dibanding imbal hasil surat berharga seperti obligasi atau imbal hasil rata-rata saham, dan dua kali lipat lebih banyak dibanding keuntungan yang dinikmati oleh perusahaan modal ventura (venture capital firms).
Hal ini karena harga rancangan dan teknologi efisiensi energi yang ada saat ini sudah bersaing dengan harga produk konvensional. Manfaat lain, teknologi efisiensi modern mampu menghemat biaya energi secara signifikan.
Apalagi ditambah dengan ancaman peningkatan harga energi. Menghemat energi pada bangunan hingga 30% bisa mengurangi biaya energi rumah tangga hingga $163 per tahun. Jika penggunaan energi pada rumah tangga dan bisnis digabung, manfaat dari peningkatan efisiensi ini bisa mencapai $466 per tahun.
Penghematan itu dua kali lipat biaya yang dikeluarkan ibu-ibu untuk membeli sayuran segar. Angka itu juga lebih banyak dibandingkan biaya untuk membeli peralatan rumah tangga, furnitur, pakaian anak-anak, dan setara dengan biaya yang dikeluarkan untuk membeli obat-obatan baik obat resep maupun obat yang dijual bebas.
Pemerintah federal, pemerintah negara bagian dan pemerintah lokal di AS menghabiskan lebih dari $50 miliar per tahun untuk biaya energi. Jika mereka mampu menghemat energi pada gedung-gedung pemerintah sebesar 30%, AS akan mampu menghemat hingga $8 miliar per tahun yang bisa digunakan untuk menyeimbangkan anggaran sekaligus memotong pajak.
Di seluruh dunia, upaya penghematan energi pada bangunan bisa menciptakan pasar desain dan teknologi bangunan hemat energi senilai $1.8 triliun. Investasi pada teknologi penghemat energi ini juga akan membuat perusahaan manapun lebih kompetitif. Mari memerbanyak gedung yang hemat energi.
Redaksi Hijauku.com